Jogjakopisme


Kopasus, kopi tanggung susu, kopi hitam....

Kali ini saya ingin beropini, bahwasannya kota jogja selain memiliki predikat kota pelajar, kota kebudayaan, kota gudeg, kota Jogja saya beri predikat kota Kopi. Sebuah predikat yang saya rasa tidak mengada-ada dan saya buat-buat. Tiga tahun mendiami jogja belakangan ini memang membuat saya tergila-gila dengan kenikmatan minuman asal Negara Brazilia. Hidup tanpa minum kopi, ibarat jiwa yang haus akan ketenangan. Hampir setiap hari, kopi selalu menjadi sahabat insipratif saya untuk menjalani kehidupan yang keras ini. Setiap tetesnya tersimpan sebuah idealisme para manusia muda yang haus akan karya dan karya. Boleh dibilang, bahwa kopi selalu membuat kehidupan keras ini menjadi lembut dan melankolis. Di masa ini, kopi tak sekedar menjadi minuman penghilang rasa kantuk saja. Tetapi lebih dari semua itu, kopi identik dengan persahabatan. Sudah menjadi kebiasaan saya, duduk bersila ditemani secangkir kopi dengan agenda berdiskusi bersama kawan-kawan membicarakan kehidupan yang semakin tua ini. Oh kopi, walau satu tetes kutenggak, kau bisa saja menjadi boomerang bagi tubuhku. Tapi tak apalah, tubuh ini memang sudah cocok kukawinkan dengan kopi.

0 Komentar:

Poskan Komentar